Senin, 31 Maret 2014

Happiness is A Way of Travel, Not a Destination! (Part 2)

Senin, 31 Maret 2014
Saya nggak akan banyak cerita disini, biarkan foto-foto ini yang bercerita semuanya. Asek!\
Hari ini pertama kalinya saya ke Museum Angkut di Batu-Malang. Museum ini baru dibuka awal Maret lalu. Overall, sih menurut saya bagus banget museumnya tapi memang masih perlu pembenahan disana sini :)

Museum ini bisa banget masuk weekend list tempat yang harus dikunjungi. Untuk HTMnya kalo weekdays 40.000, weekend/hari libur 60.000, dan ini yang mungkin agak bikin males sih sebenarnya. Kalo bawa kamera pocket/slr akan dikenakan charge 50.000. Tapi worth-it kok dengan harga segitu, dijamin puas setelah masuk sini :D





















-----
not allowed to copy and paste without permission
copyright by ephemera blog 2014

Happiness is A Way of Travel, Not a Destination! (Part 1)

Rasanya 4 hari terakhir ini adalah hari-hari berharga di bulan Maret. Dari 31 hari di bulan Maret ini, ada nyempil 1 tanggal merah pas di akhir bulan. By the way, Rahajeng Nyepi untuk umat Hindu yang sedang merayakan ya. Tapi berhubung status saya adalah mahasiswa yang notabene kuliahnya cuma 4 hari dari senin-kamis, itu berarti jatah liburan saya nambah deh jadi 4 hari. Alhamdulillah...

Berawal dari ajakan Ibu sekitar seminggu yang lalu untuk berkunjung ke rumahnya Mbah di Tulungagung pas hari Minggu kemarin dan rencananya mau pulang hari Senin ini. Terus si Ibu juga ngajak pas berangkat itu mampir main dulu ke Blitar. Rencananya mau ke Candi Penataran sama Makam Bung Karno. Kebetulan saya emang belum pernah ke 2 tempat itu sih jadi cukup excited untuk acara jalan-jalannya ini. Yah tau sendiri kan saya ini orangnya haus akan jalan-jalan. Hehe. Nah tepat hari sabtunya, sehari sebelum berangkat, Ibu saya sakit dan akhirnya si Ayah bilang nggak usah pergi dulu. Si ibu biar istirahat. Dang! Apa mau dikata. Kecewa? Pasti! Tapi saya juga nggak bisa memaksakan untuk tetep pergi. Kalau tau bakalan batal sih ya saya milih untuk pesen tiket kereta seminggu sebelumnya dan berangkat sendirian ke Tulungagungnya. Kalo ditanya takut apa enggak, saya udah biasa naik kereta sendirian. Sejauh ini juga aman-aman aja kok dan semoga akan terus tetap aman :) 
Pada akhirnya saya liburan ini tetep stay di Malang aja.

Hari Minggu kemarin ini saya rasanya males untuk di rumah aja. Saya ingat bahwa besok (pas hari Senin ini) adalah hari Nyepi. Biasanya pas hari Nyepi pasti ada pawai Ogoh-ogoh. Tau ogoh-ogoh kan? Semacam replika patung raksasa besar-besar dan tradisi dari orang Hindu sendiri nanti ogoh-ogohnya itu dibakar sebagai simbol perlawanan pada roh-roh jahat. Mohon maaf kalau penjelasan saya tentang ogoh-ogoh itu tadi salah. Secara umumnya sih kayak gitu. Lalu saya tanya ke temen saya yang beragama Hindu tempat yang ngadain pawai ogoh-ogoh itu dimana. Temen saya jawab di lapangan rampal ada. Saat itu juga saya langsung memantapkan diri untuk berangkat liat pawai ogoh-ogoh. Sendirian. Tanpa teman. 

Oke. Saya udah kayak anak 'freak' yang pergi sendirian tak berteman :| Pikiran saya waktu itu adalah pengen 'balas dendam' sama jalan-jalan yang gagal ke Blitar itu dengan pergi ke suatu tempat. Dan juga sekalian cari-cari objek foto. Lumayan buat menuh-menuhin akun instagram. Haha. Fyi, hari Jumatnya akun instagram @describeindonesia memfitur salah satu foto saya. Senang sekali rasanya bisa turut andil dalam mempromosikan pariwisata Indonesia salah satunya via instagram. Saya sudah membayangkan objek umat Hindu dengan baju sembahyangan yang khas dan segala rupa sesajen-sesajen dan juga pawai ogoh-ogohnya akan menjadi objek yang menarik di mata saya. Rencana awalnya foto yang saya dapat nanti itu akan saya post di instagram dan di tag ke akun-akun official promosi pariwisata indonesia. Siapa tahu saya di-fitur-in lagi. Hehe :D


akun instagram @describeindonesia

Sekitar jam 10an pagi, saya berangkat ke lapangan rampal untuk menuntaskan hasrat saya, namun pas saya kesana dan ternyata... ZONK!!! Pawai ogoh-ogohnya gak ada dan dari kejauhan terdengar umat Hindu yang masih mengucapkan do'a-do'anya. Terlihat sakral sekali. Saya pun akhirnya mengurungkan niat ke tempat diadakannya pawai ogoh-ogoh itu. Saya memutar otak lagi. Saya nggak pengen ngendon di rumah. Saya pengen jalan-jalan pokoknya! Walaupun sendirian nggak jadi masalah buat saya. Akhirnya pikiran saya tertuju pada salah satu tempat yang memang belum pernah saya kunjungi dan tempatnya juga nggak jauh-jauh dari pusat kota. Museum Malang Tempo Dulu! Oh so yes! Ini adalah destinasi yang membuat saya merasa betapa beruntungnya saya hari itu ;)

I know, Allah always has great another plan for me. Pas sampai di depan museum saya sempat agak ragu. Kok sepi amat tempatnya. Kayak ga ada yang ngunjungin gitu. Di depan museumnya ada petugas yang lagi bersih-bersih dan saya tanya ke beliau apakah museumnya buka. Padahal saat itu saya sebenernya tau kalau di di pintu kacanya udah ada tanda tulisan 'BUKA'. Saking ragunya saya sama tempat itu. Hahaha. Saya pun masuk ke dalam. Di depan meja loket ada beberapa tas carrier ala backpacker. Saya cuma mbatin mungkin ada yang mau berangkat backpacking terus meeting pointnya disitu. Pikiran saya terlalu jauh sepertinya. Setelah bayar HTM, saya pun menyusuri lorong-lorong museum itu sendirian. Di awal-awal agak spooky gitu. Maklum masih di zona Malang jaman jebot alias masih jamannya kerajaan-kerajaan jadi dibikin kesannya agak remang-remang. Lalu saya menyusuri ke dalam dan akhirnya mulai masuk zona yang agak modernan dikit. Dan disana udah ada beberapa orang bersama 1 guide yang lagi jelasin. Itu pasti si empunya yang punya tas-tas carrier itu. Benar saja ternyata pikiran saya. Saya pun akhirnya ikut mendengarkan penjelasan dari guide itu terus ngobrol-ngobrol sama mas guide dan lama-lama kenalan juga sama Mbak-mbak dan Mas-mas backpacker itu. Mereka dateng dari Bali, Bandung, dan Jogja.

Mungkin awalnya saya dibilang orang aneh karena pas ditanyain kesana sama siapa ya saya hanya bisa jawab sendirian. Persona saya muncul. Pas ditanya kok sendirian aja yah saya jawab dengan gaya sok intelek aja. Saya bilang daripada di rumah ga ngapa-ngapain mending ke museum sekalian belajar. Hahahaha. Sampai pada satu waktu saya ngobrol sama mbak-mbak backpacker itu:
"Bentar lagi mau kemana Nik?" (Mbak Pristy manggil saya)
"Nggak tau juga sih Mbak. Masih ga punya tujuan lagi"
Mbak Pristynya ketawa "Ikut kita aja gapapa, sekalian jadi guide"
Lalu saya tanya balik, "Ini rencana mau kemana lagi habis ini Mbak?"
"Pengennya ke toko oen. Jauh nggak sih kalo jalan kaki?"
"Enggak kok Mbak. Yaudah ayo deh Mbak"

Saya dan Mbak Dwi, Mbak Dewi, Mbak Pristy, dan Mbak Rorien.

Jadi setelah dari Museum Malang Tempo Dulu saya pergi nemenin mereka ber-6 ke toko Oen. Saya ngobrol banyak dengan mereka. Saya juga belajar banyak dari Mbak-mbak dan Mas-mas ini tentang dunia backpacking. Bisa jadi modelling bagi saya. Saya juga dapet beberapa referensi tempat yang pas budgetnya dengan kantong backpacker di beberapa tempat. 
Pada akhirnya waktu juga yang memisahkan kita. Setelah dari toko Oen saya memutuskan untuk balik misah dengan mereka karena saya mau ada acara lagi sama keluarga saya. Jadi setelah saya ngasi petunjuk jalan ke mereka saya balik pulang ke rumah. 

Terimakasih untuk Mbak Pristy, Mbak Dwi, Mbak Dewi, Mbak Rorien, Mas Argi, dan Mas Agus yang sudah jadi 'teman jalan' yang singkat tapi bener-bener 'ngena' di saya. Semoga bisa bertemu lagi di lain waktu. 

Saya bersama mereka sesaat sebelum berpisah di depan Toko Oen

Saya pun pulang dengan membawa banyak pelajaran dari mereka-mereka ini :) 

Moral of this story:
Jangan cuma ngendon di rumah! Dunia itu luas banget. Cari teman sebanyak-banyaknya. Kalau bisa jangan cuma temen yang cuma itu-itu aja misalnya dari cuma yang 1 kota, atau temennya temen kita, dan semacamnya. Khususnya buat yang suka traveling, teman-teman semacam ini akan sangat-sangat berguna untuk memberikan referensi tempat di kota mereka, atau mungkin yang mereka pernah kunjungi :)

----
not allowed to copy and paste without permission
copyright by ephemera blog 2014

Rabu, 19 Maret 2014

Beta Cinta Indonesia

Malang, Maret 2014

Kita sering mendengar Indonesia memiliki berbagai julukan seperti nusantara, negara maritim, heaven on earth, dan masih banyak lagi yang lainnya. Bahkan sejak kecil, saya sering dikenalkan dengan julukan atau nama lain dari Indonesia. Tapi rasanya julukan-julukan yang indah itu dikotori dengan berbagai permasalahan yang semakin banyak dan rumit. Miris rasanya jika melihat Indonesia saat ini. Hampir setiap hari, selalu ada pemberitaan yang menggambarkan seolah Indonesia adalah “gudangnya” permasalahan. Permasalahan yang seperti tiada henti dan tanpa penyelesaian. Permasalahan-permasalahan yang seringkali justru dibuat sendiri oleh petinggi-petinggi di Negeri ini yang membuat masyarakatnya kehilangan cinta akan tanah airnya sendiri.

Memang. Jika kita hanya melihat Indonesia dari satu sisi saja, terlebih lagi dari apa yang sering diberitakan di media-media kita akan menilai Indonesia ini  begitu buruk dengan berbagai permasalahannya. Inilah saatnya kita untuk lebih membuka mata dan memandang secara lebih bijak lagi tentang negeri kita.

Ingatkah anda ketika melihat kartu pos dengan berbagai foto objek wisata di Indonesia yang begitu cantik? Ingatkah anda ketika melihat tayangan-tayangan di televisi atau di media lain yang menggambarkan betapa mempesonanya alam Indonesia? Kaya dan indah. Begitulah kata-kata yang dapat menjelaskan tentang bagaimana Negeri seribu pesona ini. Bagaimana tidak? 17.000 lebih pulau. 34 provinsi. Dari ujung barat di Pulau Rondo sampe ujung timur di Merauke. Yang  paling utara di Pulau Miangas sampai yang paling selatan di Pulau Rote. Semua daerah di Indonesia memiliki keragamannya sendiri. Baik keragaman sumber daya alamnya, ragam budaya dan kesenian, dan kearifan lokal yang ada di masing-masing daerah tersebut.

Indonesia memiliki banyak sekali tempat indah yang tersebar di ribuan pulau. Saking luasnya, barangkali kita tak akan mampu walaupun seumur hidup dihabiskan untuk mengelilingi semua wilayah di Indonesia. Saya pernah membaca Bapak Proklamator kita, Soekarno pernah mengatakan dalam pidatonya “Negeri kita kaya raya, Saudara! Kita adalah satu tanah air yang paling cantik di dunia”. Kita harus tetap mengingat bahwa Indonesia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki Negara lain.  Negeri ini begitu cantik dan kaya dengan keindahan alam dan ragam budayanya. Keindahan Indonesia bukan hanya sebagai pelengkap hiasan di kartu pos saja. Dengan melihat sisi lain dari Indonesia, semoga saja kita semua dapat lebih memahami bahwa negeri ini tidak hanya tentang berbagai permasalahan. Sudah sepatutnya kita bangga hidup di Nusantara.

Saya akan tetap cinta Indonesia. Terlepas dari berbagai permasalahan yang menimpa. (nx)

----------
not allowed to copy and paste without permission
copyright by ephemera blog 2014

Minggu, 23 Februari 2014

My Vision about Marriage

Jangan kaget dulu dengan judul di atas!
Kenapa saya ngambil judul itu di atas? Itu mungkin pertanyaan yang klise bagi para pembaca setia (if any :D) atau kepoers atau blog walkers yang menyempatkan waktunya untuk sekedar mampir di blog ini. Yaah jawabannya klise juga. Karena saya tiba-tiba kepikiran untuk bikin postingan yang topiknya tentang 'Menikah' :p

Sering nggak sih pas ketemu sama temen dari orangtua kita, terus temennya orangtua kita itu bilang "wah anakmu udah besar ya. bentar lagi bakal punya mantu nih" atau pertanyaan-pertanyaan lain sejenis. Nah mungkin nggak cuma saya aja yang mengalami itu. Saya yakin kalian pun pernah mengalaminya :) Pas dikasi pertanyaan sejenis itu biasanya saya sih cuma membatin aja "mau nikah gimana, pacar aja belum punya!". 

Saya nggak mau menyebut diri saya mengenaskan hanya karena tidak belum mempunyai pacar/calon suami/calon pendamping hidup/etc/blablabla. Setelah beberapa kejadian yang tidak perlu saya ceritakan disini saya berprinsip bahwa saya nggak ingin pacaran yang hanya buat main-main lagi. Saya kepinginnya ketika saya menemukan seorang pacar semoga itu memang benar-benar jodoh saya dan berakhir di hubungan pernikahan. Yah saya nggak mau sok sok woles. Jujur saja saya pernah mengalami masa-masa krisis kepercayaan diri kenapa kok saya belum dianugerahi seorang pacar/jodoh, dimana beberapa teman-teman saya bahkan ada yang udah menikah :( Secara psikologis, emang wajar kalau ada pikiran seperti itu karena memang di usia-usia saya seperti ini idealnya fokus hidup adalah untuk tujuan karier dan hubungan cinta. Tetapi setelah saya pikir-pikir lagi mungkin Allah memang masih menyimpan jodoh saya dan memang belum direstui untuk dipertemukan saat ini. 

Saya sempat ada pikiran ingin menikah di usia 23 tahun. Entah mungkin karena pada saat itu momennya bertepatan ada salah satu teman saya yg menikah dan saya ngeliat mereka duduk di pelaminan itu sepertinya suatu hal yang sangat sangat membahagiakan menurut saya. Atau mungkin juga karena terpengaruh dengan prinsip saya yg tidak ingin lagi untuk pacaran-pacaran lagi. Saya mungkin hanya membayangkan betapa enaknya punya partner hidup yang seutuhnya adalah milik saya. 

Rumah tangga itu rumit, kalau sederhana, itu rumah makan padang - Agus Kuncoro
  Pada suatu waktu saya dihadapkan dengan sebuah realita yang menunjukkan bahwa dalam pernikahan itu pasti ada kalanya ditimpa cobaannya. Namun, tinggal bagaimana pasangan itu menghadapi cobaan. Banyak sekali contoh rumah tangga yang sudah bepuluh-puluh tahun dibina namun ketika ada cobaan yang mungkin sudah mencapai titik puncaknya, pasangan tersebut justru "menyerah pada keadaan" dan memilih perceraian sebagai jalan keluarnya. Pikiran saya sedikit demi sedikit mulai terbuka bahwa memang sebuah rumah tangga itu nggak mungkin akan selalu berjalan mulus. Sebuah hubungan rumah tangga justru akan didewasakan dari pengalaman bagaimana pasangan tersebut menghadapi suatu cobaan. 

Melihat realita tersebut, pikiran saya untuk menikah muda-pun mulai menghilang. Saya ingat cerita salah satu dosen saya yang bahkan hingga usia 30 tahunan belum juga menikah. Dosen saya mengatakan "Saya sekarang memang sendirian namun saya sudah cukup bahagia dengan kehidupan yang saya miliki. Saya tidak tahu apakah ketika saya menikah nanti saya akan lebih bahagia atau bagaimana". Kalo menruut teorinya Maslow, mungkin dosen saya memang telah mencapai aktualisasi dirinya sampai-sampai ia mungkin menomorakhirkan urusan menikah. 

Bulan Januari lalu, kebetulan kakak sepupu saya baru saja menikah. Saya mengobrol dengan kakak sepupu saya itu. Dia sempat nyeletuk "wah bentar lagi nyusul ini kamu!" dan saya hanya menimpalinya dengan ketawa kecil. Kakak sepupu saya lalu bertanya "target nikah usia berapa dek?". Lalu saya jawab "aduh nggak tau mas. pengennya masih seneng-seneng dulu". Mas saya menimpali "kamu umur berapa se sekarang?" "20 mas" "Kalo cewek tuh idealnya yah 23-24-25 lah. Ntar lulus kuliah mau sekolah lagi?" "Insyaalah iya pengen lanjut lagi." Lalu saya pun cerita tentang dosen sy yang telah mencapai aktualisasi dirinya itu. Mas saya komentarnya seperti ini:

"Waaa kalo aku sih nggak setuju. Soalnya apa? Walaupun dia udah bahagia dengan keadaannya sekarang, mau gimanapun dia akan butuh seorang pendamping. Kan kita hidup juga bakalan jadi tua. Sementara saudara-saudara atau temen-temen kita juga akan bertambah tua dan bakalan punya kehidupan masing-masing dengan pasangannya. Kalo udah kayak begitu terus kita kalo ga punya pasangan hidup mau sama siapa?! Emang mau jd kesepian. Apalagi kalo buat cewek. Usia diatas 30 tahun itu sebenarnya juga udah rentan. Apalagi kan kalo pengen punya anak usia-usia 30 tahun ke atas itu rawan banget. Kalo menurutku sih ya gapapa nyenengin diri sendiri dulu tapi urusan nikah juga jangan dilupain."

OH MY GOD, HE'S SUCH A GENIUS MAN!!!!! :( Dia membuka pikiran saya. 

Be Careful of What You Wish For
Saya sekarang 20 tahun. Saya masih memiliki banyak sekali mimpi-mimpi yang belum saya raih. Saya masih ingin jalan-jalan, saya masih ingin lanjut sekolah, saya ingin membahagiakan orangtua saya, saya ingin mencapai titik puncak aktualisasi diri saya, and saya pun ingin bertemu dengan partner hidup saya dan membina rumah tangga. Saya tak tahu kapan waktunya Allah mempertemukan saya dengan jodoh saya. Namun ketika waktu itu datang, saya yakin itulah yang terbaik yang Allah berikan pada jalan hidup saya. Saya akan siap secara lahir batin ketika Allah telah memberi restunya untuk saya. Pada prinsipnya saya akan menikah ketika Allah sudah 'memberi restu' bahwa memang inilah waktunya dan saya telah siap secara psikis dan yang tak kalah terpenting adalah secara finansial :)

----------
not allowed to copy and paste without permission
copyright by ephemera blog 2014

Senin, 03 Februari 2014

Imma Happy Traveler! :)

Beberapa waktu lalu sekitar bulan Desember 2013 Ibuk bilang ke aku kalau ada kompetisi blog dari Lenong Rumpi Kopitiam Resto Malang yang temanya tentang review makanan Indonesia. Dari pamfletnya aku cukup excited  untuk ikutan karena berhasil teriming-imingi oleh hadiah yang bakal didapat yaitu sunrise tour ke Bromo. Lumayan kan bisa traveling gratisan :p Masalahnya entah kenapa pada saat itu agak males-malesan untuk posting. Yang ada di pikiranku cuma bayangin rasanya ntar pas menang. Dasar sifatnya manusia maunya langsung dapet enak tanpa ada usaha :| Sampai pada H-1 deadline posting blog akhirnya ku bikin postingan juga untuk kompetisi ini. Ini dia nih postingan review makanan Indonesia yang berhasil membawaku tour gratisan ke Bromo. Haha :D 

Saat itu bertepatan tahun baru, aku lagi ada di Jogja. Pagi-pagi tanggal 1 Januari iseng kubuka twitternya @lenongrumpiRI karena kebetulan pengumuman untuk pemenang kompetisi blognya pas tanggal 31 Desember. Nah mungkin rejeki aku kali yaa, aku jadi salah satu dari 3 pemenang kompetisi blog itu dan dapet hadiah sunrise tour ke Bromo :D Alhamdulillah. Rejeki di awal tahun 2014. Semoga kedepannya makin banyak 'rejeki tak terduga' untuk saya ya. Amiin :)

Kalau dipikir-pikir lagi memang kayaknya Desember-Januari ini adalah bulan-bulan aku untuk bepergian ya. Sejak liburan semester dimulai ke Tulungagung, akhir tahun di Jogja, pertengahan januari semingguan di Jakarta, dan ini akhir Januari ke Bromo. Wehehe. Beberapa komentar dari teman-teman saya: ada yang bilang "duh jalan-jalan terus!", "duh enak banget traveling terus", "enak rek jadi nixie", and bla bla bla. Oke persilahkan saya untuk berkomentar ya. Menurut saya traveling itu tentang moment. Kalo momentnya pas dan istilahnya 'direstui Allah' ya kamu akan bisa jalan-jalan terus. Terkait juga sama yang tentang ke Bromo, komentar saya adalah jaman kayak gini internet jangan cuma dibuat buka twitter, fesbuk, dan sosmed-sosmed lainnya. Banyak-banyaklah cari info tentang kompetisi atau apapun yang sesuai sama passionmu dong. Kalo aku sendiri memang suka blogging, dan sedang 'merintis' jadi traveler biar nggak cuma jadi 'traveler wannabe' tapi juga jadi 'the real traveler ;) . Ya aku cari info-info yang berhubungan dengan passionku itu. Hehehe :p

Dan akhirnya inti dari postingan ini adalah report trip ke Bromo kemarin. Yap! aku berangkat ke Bromonya tanggal 1 Februari tengah malam. Yang membuat saya lebih excited selain karena dapet gratisan adalah ini bisa dibilang adalah pengalaman pertamaku solo traveling! Hehehe. Berangkat sendiri tanpa bersama orang-orang dekat yang sudah dikenal. Alhamdulillah sama orangtua diijinkan. Wahaha :D But, solo traveling was not all that bad kok. Pada akhirnya, aku dapet 3 teman baru dari Balikpapan. Lumayan kan bisa nambah link kalau suatu hari nanti traveling ke Balikpapan atau daerah Kalimantan ada yang bisa jadi guide, yang pastinya gretongan :D Pengen banget kapan-kapan solo traveling lagi ke suatu tempat. Semoga tak terhalang ijin oleh orangtua :D

Straight to the point aja. Nih foto selama 'liburan gratisan' kemarin :D 















 







Nggak ketinggalan juga videonya. Nih!!! Kurang lengkap apa coba postingan ini. All to celebrate my happiness, recently haha :p



Moral of this story:
1. Always take the chance in front of you! Take it or you will lose some 'great plan' that Allah has made for us if you let that chance away.
2.Stop working, or anything that spend your time the most, and then GO Traveling!
3. Stop thinking that traveling is must always going somewhere with your bestfriends or someone who have recognize you. You can be a solo traveler. Believe me, solo traveling is not all that bad. You can meet new friends, and would have a great experience :D

Semoga postingan ini bermanfaat untuk aku, kamu dan kita semua. Azzeg :D
Wassalam!


----------------------

not allowed to copy and paste without permission
copyright by ephemera blog 2014